oleh

Pendapat Mixil Mina Munir, “Gaya Komunikasi Prabowo”

Opini-Medialintasnusa.com : Mixil Mina Munir, satu di antara Aktivis muda Indonesia yang memiliki jiwa berjuang melawan suatu tirani terhadap penindasan rakyat. Berjuang bersama para Aktivis 98 dan di Forum Kota (FORKOT) yang tetap teguh memiliki Militan walaupun mesti harus menghadapi jeruji besi, dan samapai saat ini Mixil Mina Munir masih tetap Eksisitensi melawan terhadap sesuatu yang akan berindikasi ketidakbenaran.

Kepada Media Lintasnusa.com Mixil Mina Munir mengirimkan Tulisannya. Tulisan Mixil Mina Munir tersebut sebagai berikut;

Seminggu ini kita disibukkan oleh gaya komunikasi Pak Prabowo yang kurang enak di telinga, “di Ponorogo, Prabowo marah sama emak-emak dan di Boyolali, Prabowo malah menghina tampang orang Boyolali”.

Sebenarnya tidak hanya dua kali itu saja, gaya komunikasi Pak Prabowo di beberapa acara juga kurang pantas diucapkan oleh seorang calon pemimpin.

Mungkin pak Prabowo lupa bahwa ia adalah Calon Presiden (CAPRES), bukan “Bos perusahaan”. Jika bicara sebagai pemilik perusahaan, Ia bisa sesukanya memecat anak buah yang tidak ia sukai. Tapi bicara sebagai Calon Presiden maka sesungguhnya ia sedang bicara didepan pemilik sah saham Republik ini.

Ada ungkapan dasar bagi siapapun yang mau bertarung merebut hati rakyat, baik itu Calon Legislatif, Calon Kepala Derah atau Calon Presiden. Mereka harus pandai KOMUNIKASI dengan rakyat.

KO, adalah TEKO dalam bahasa jawa berarti  datang, mau menyapa kepada rakyat. MUNI, dalam bahasa Jawa artinya bicara, calon pemimpin harus mau bicara kepada rakyat. KASI adalah kasih, yang berarti pemimpin memberi kepada Rakyat.

Apakah Prabowo selama ini sudah KOMUNIKASI?

TEKO berarti Datang, dalam riset Saya selama 45 hari terakhir sejak ditetapkan sebagai Capres, Prabowo paling jarang bertemu rakyat. Rakyat Papua tidak disapa, tsunami di Palu dan Donggala tidak diperhatikan, gempa di NTB dibiarkan saja tanpa rasa peduli. Prabowo, bahkan belum pernah ke luar Jawa selama bulan Oktober kemarin.

MUNI atau BICARA, nampaknya Prabowo perlu mengganti tim pembisiknya. Saya hampir tidak pernah mendengar gaya  bicara Prabowo yang elegan, menyihir penonton, reaksi penonton yang terharu hingga menitikkan air mata, atau hingga standing applause. Yang tersisa hanya jejak kemarahan dan kebencian.

Pidato Prabowo tentang “merampok tetangga yang sedang kesusahan pasti meninggalkan kemarahan, bukan empati. Pidato Indonesia bubar tahun 2030 mengakibatkan rasa pesimis bukan membangun optimisme bangsa”.

Pidato Prabowo di Bondowoso lebih memprihatinkan, dia sebagai ketua umum partai akan bertanya kepada Calon Kepala Daerah, “kalau ada yang  mau jadi Gubernur, datang ke Saya, apa pertanyaan saya kepada dia; Ente punya uang berapa? Saya tidak Tanya anda lulusan mana? Saya tidak tanya anda pernah nulis buku apa?.” Miris saya mendengarnya.

KASI(H), berilah sesuatu pada rakyat. Politik adalah bagaimana memelihara harapan. Tanpa harapan yang lebih baik, sesungguhnya rakyat tidak butuh pergantian kepemimpinan.

Pak Prabowo, berilah harapan akan masa depan Indonesia yang lebih baik jika Bapak menang, bukan mengancam Indonesia bubar tahun 2030.

Berilah program yang kongkrit, bukan menjual “ayat dan kemiskinan”. Berilah harapan, bukan memelihara kedunguan dan kebencian, ditulis oleh MIXIL MINA MUNIR. (Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *